Bandung, 24 Agustus 2026 — SMA Negeri 5 Bandung melaksanakan upacara bendera rutin hari Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung dengan tertib dan khidmat tersebut diikuti oleh seluruh peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan SMAN 5 Bandung.
Bertindak
sebagai pembina upacara adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 5
Bandung, Reppy Hapyan, S.Pd., M.Pd. Dalam amanatnya, ia mengangkat tema “Menjadi
Manusia Unggul – Unggul dalam Karakter, Kompetensi, dan Kontribusi.”
Dalam
amanat tersebut disampaikan bahwa manusia unggul tidak semata-mata berarti
seseorang yang selalu menjadi nomor satu, memperoleh nilai tertinggi, atau
mampu mengalahkan orang lain. Manusia unggul justru merupakan pribadi yang
mampu mengembangkan potensi dirinya, memiliki karakter kuat, terus belajar,
serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan orang lain.
“Manusia
unggul adalah manusia yang mampu mengembangkan potensi dirinya, memiliki
karakter yang kuat, terus belajar, dan memberikan manfaat bagi orang lain.”
Mengenal Diri sebagai Langkah Awal
Salah
satu hal pertama yang ditekankan kepada peserta didik adalah pentingnya
mengenal diri sendiri. Mengutip gagasan filsuf Socrates, “Know thyself”
atau “Kenalilah dirimu sendiri”, para siswa diajak memahami kelebihan,
kekurangan, cita-cita, serta hal-hal dalam diri yang masih perlu diperbaiki.
Peserta
didik juga diingatkan agar tidak hanya sibuk membandingkan diri dengan
keberhasilan orang lain. Hal yang tidak kalah penting adalah melihat
perkembangan diri dari hari ke hari.
Pertanyaan
sederhana, “Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya hari ini?”,
dapat menjadi bahan refleksi. Perubahan seperti menjadi lebih rajin, lebih
tepat waktu, serta berani mencoba kembali setelah mengalami kegagalan merupakan
bagian dari proses menjadi manusia unggul.
Karakter Kuat Dibangun dari Kebiasaan
Dalam
amanatnya, Reppy juga menekankan bahwa kecerdasan harus berjalan beriringan
dengan karakter. Merujuk pada pemikiran Aristoteles, karakter yang baik lahir
melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik.
Kejujuran,
kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian terhadap kebersihan, serta kepatuhan
terhadap aturan tidak terbentuk dalam satu hari. Semua itu tumbuh dari
kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
“Karakter
yang kuat dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” menjadi
salah satu pesan penting dalam amanat tersebut.
Terus Belajar dan Memiliki Rasa Ingin Tahu
Aspek
berikutnya dari manusia unggul adalah kemauan untuk terus belajar. Peserta
didik diajak memiliki kerendahan hati intelektual dan menyadari bahwa selalu
ada hal baru yang dapat dipelajari.
Sikap
merasa sudah pintar justru dapat menghambat perkembangan diri. Sebaliknya,
mereka yang terus bertanya, membaca, berdiskusi, dan mengevaluasi diri akan
memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang.
Karena
itu, siswa SMAN 5 Bandung didorong agar belajar tidak semata-mata untuk
menghadapi ujian.
“Jangan
hanya belajar karena kalian akan menghadapi ujian. Belajarlah karena kalian
ingin memahami dunia.”
Pesan
tersebut diharapkan mampu menumbuhkan budaya belajar yang didorong oleh rasa
ingin tahu dan keinginan untuk terus meningkatkan kompetensi.
Mampu Mengendalikan Diri dan Bangkit dari Kegagalan
Mengutip
pemikiran filsuf Stoik Epictetus, amanat upacara juga menyoroti pentingnya
membedakan hal-hal yang berada dalam kendali diri dan hal-hal yang berada di
luar kendali.
Seseorang
mungkin tidak mampu mengendalikan pendapat orang lain atau memastikan setiap
usaha selalu memberikan hasil sesuai harapan. Namun, setiap orang dapat
mengendalikan sikap, pilihan, usaha, dan tindakannya sendiri.
Oleh
sebab itu, peserta didik diajak untuk lebih berfokus pada pertanyaan, “Apa
yang dapat saya lakukan dengan lebih baik?”
Hal yang
sama berlaku ketika menghadapi kegagalan. Mengacu pada gagasan Friedrich
Nietzsche yang kerap diringkas bahwa apa yang tidak membunuh kita dapat membuat
kita lebih kuat, pengalaman sulit hendaknya dijadikan kesempatan untuk belajar
dan memperbaiki diri.
Ketika
nilai belum sesuai harapan, siswa harus mengevaluasi diri. Ketika gagal dalam
perlombaan, siswa perlu belajar dari pengalaman. Demikian pula ketika melakukan
kesalahan, mereka harus berani mengakuinya dan melakukan perbaikan.
Satu
kegagalan tidak boleh dibiarkan menentukan seluruh masa depan.
Integritas: Tetap Baik Meski Tidak Diawasi
Pesan penting
lainnya adalah tentang integritas. Integritas merupakan kesesuaian antara
perkataan dan tindakan.
Peserta
didik diingatkan agar tidak hanya tertib ketika ada guru, tidak hanya jujur
ketika diawasi, dan tidak hanya berbuat baik ketika mengharapkan pujian.
Karakter seseorang justru terlihat dari bagaimana ia bersikap ketika tidak ada
orang yang melihat atau mengawasinya.
Nilai
integritas inilah yang membedakan antara seseorang yang sekadar terlihat
baik dengan seseorang yang benar-benar menjadi pribadi yang baik.
Keunggulan Harus Memberikan Manfaat
Pada
bagian akhir amanat, Reppy menegaskan bahwa ukuran keunggulan seseorang bukan
hanya seberapa tinggi prestasi yang berhasil diraih, tetapi juga seberapa besar
manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Peserta
didik yang memiliki kepintaran diharapkan menggunakan kemampuannya untuk
membantu orang lain. Mereka yang mempunyai kemampuan memimpin diharapkan mampu
mengajak kepada kebaikan. Sementara mereka yang mendapatkan kesempatan juga
diingatkan untuk membuka kesempatan bagi orang lain.
“Jadilah
manusia yang kehadirannya memberikan manfaat.”
Dari
keseluruhan amanat tersebut, terdapat tujuh ciri manusia unggul yang perlu
ditanamkan dalam diri peserta didik, yakni mengenal diri, memiliki karakter
kuat, terus belajar, mampu mengendalikan diri, tidak mudah menyerah ketika
gagal, memiliki integritas, serta memberikan manfaat bagi orang lain.
Peserta
didik juga diajak untuk tidak mengukur keunggulan hanya berdasarkan nilai,
peringkat, ataupun penghargaan. Keunggulan dapat dilihat dari perkembangan
karakter: apakah semakin disiplin, semakin jujur, semakin bertanggung jawab,
semakin rajin belajar, semakin mampu mengendalikan diri, serta semakin
bermanfaat bagi orang lain.
“Manusia
unggul bukanlah manusia yang sempurna. Manusia unggul adalah manusia yang tidak
pernah berhenti memperbaiki dirinya.”
Melalui
pelaksanaan upacara Senin ini, SMAN 5 Bandung kembali meneguhkan peran sekolah
bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan dan mengejar prestasi
akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, pengembangan
kompetensi, dan penumbuhan kepedulian sosial.
Para
peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas pikirannya,
kuat karakternya, tinggi prestasinya, dan luas manfaatnya, sehingga kelak
mampu membawa perubahan positif bagi keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan
negara.
Selanjutnya
02 June 2026